This blog is about me - part of me actually - but, I hope u'r gonna find out a little bit more about me & my family, my friends, my job or my activities! Please, feel free to give comment, input or maybe just say 'hi'! For me, friend is like part of the family, so, dont hesitate to add me as u'r friend. Thank u, take care & God bless!
Thursday, March 20, 2008
The Truth about EASTER...
Apakah yang dimaksudkan dengan PASKAH ?
Tradisi Perayaan PASKAH sebuah perkembangan dalam perayaan Liturgi Gereja. Perayaan PASKAH dalam tradisi keagamaan Israel sudah sangat tua melebihi apa yang dilakukan dalam tradisi kristen, terlebih-lebih lagi berhubungan dengan telur Paskah, Bunga Lili dan sebagainya. Jika kita mengingat penggunaan istilah PASKAH dalam Bahasa Inggris : EASTER; maka kita harus mempertanyakan kembali apa yang dimaksudkan dengan PASKAH ? Apakah ada perbedaan antara PASKAH dan EASTER ? Pemahaman seperti ini penting, supaya kita dapat melihar bagaimana tradisi keagamaan Eropah dan Asia mewarnai tradisi Kristen tentang KEBANGKITAN KRISTUS-YESUS.
I. PASKAH / EASTER DALAM TRADISI PAGANISME
Nama Perayaan PASKAH di dalam Bahasa Inggris disebut EASTER. Perayaan EASTER itu ditransformasikan dari upacara penyembahan dalam agama-agama suku untuk memperingati dewa tertentu. Biasanya dilakukan menjelas menyongsong fajar (sunrise). Matahari yang muncul di ufuk timur itu menjadi simbol / lambang yang memaknai sebuah kekuatan. Kekuatan itulah yang menyebabkan matahari muncul di atas katulistiwa tepat dari arah mata angin : TIMUR (East).
Istilah EASTER berasal dari kebiasaan paganis (agama suku --- termasuk politeis, panteon, dinamisme, animisme --- dan sejenisnya) tentang EASTRE, Dewi langit yang menguasai musim semi, salah satu di antara dewa-dewi dalam Agama Suku Anglo-Saxon. Ada juga yang berpendapat perayaan tersebut dilakukan orang Chaldean untuk menghormati dewi ASTARTE, salah satu di antara dewi yang berdomisili di “khayangan”. Nama dewi ini juga ditemukan dalam tradisi keagamaan di Ninive. Upacara penyembahan (kultus-ritual) terhadap dewi ini ditemukan juga dalam tradisi paganisme di Asiria (namanya Dewi ISTHAR). Dan paganisme ini telah jauh dikenal suku-suku yang mendiami wilayah Britania Raya dan Scotlandia. Dan paganisme ini telah jauh dikenal suku-suku yang mendiami wilayah Britania Raya dan Scotlandia. Kultus-ritual yang dilakukan suku-suku yang disebutkan di atas tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan di dalam kekristenan saat ini, khususnya di Eropah, dan kemudian diambil
alih oleh masyarakat Kristen Indonesia.
II. EASTER DALAM TRADISI AGAMA YHWH (atau AGAMA ISRAEL)
Ada perbedaan besar di dalam tradisi Agama YYHW yang diperkenalkan Musa dengan paganisme yang menyembah “Queen of Heaven” ( atau Astarte, Isthar, Eastre, Oastre). Jika penyembahan “ratu surga” itu dilakukukan oleh paganisme, maka hal itu terkait erat dengan siklus musim-musim di atas permukaan bumi. Hal ini dilakukan dengan mengingat akan “keselamatan” dari penyembahnya. Sekurang-kurangnya, melalui penyembahan itu diharapkan situasi-kondisi kehidupan manusia akan lebih baik, terhindar dari malapetaka dan sebagainya. Perayaan PASKAH / EASTER, sebagaimana aslinya, merupakan tradisi yang dibuat manusia untuk memuja dewa-dewi agar memperoleh keselamatan. Itulah dasarnya !
Sementara Israel tidak berpikir seperti itu. Israel berpijak pada realitas, bahwa TUHAN Allah (YHWH-Elohim) telah bertindak dalam sejarah kehidupan bangsa Israel, membebaskan dan menebus mereka dari penjajahan Mesir (Firaun). Bacalah Keluaran 12 sebagai landasan bagi perayaan PASKAH. Menurut orang Israel, sesuai dengan kalendernya, PASKAH / EASTER diselenggarakan tepat pada saat bulan purnama, pada tanggal 14 Bulan Nisan, bulan pertama pada kalender Israel.
KAPANKAH EASTER DIRAYAKAN DALAM TRADISI KRISTEN ?
Menurut PB (Perjanjian Baru) Kristus-Yesus disalibkan pada Malam menjelang Jamuan Makan PASKAH. Sesudah itu dalam waktu singkat Dia bangkit. Konsekwensinya, Orang Kristen Abad I merayakan peristiwa tersebut untuk mengingat akan penderitaan dan kemenangan Kristus-Yesus. Memang, penyelenggaraan Perayaan EASTER (Paskah) pada waktu itu masih berbeda-beda di kalangan Jemaat. Orang Kisten non-Israel mengambil alih tradisi tersebut, namun menempatkannya pada HARI MINGGU (Ibr. Ehad; Arb. Ahad) sebagai HARI PERTAMA, untuk mengingat rayakan KEBANGKITAN KRISTUS-YESUS. Tapi dari tahun ke tahun, jatuhnya tanggal PERAYAAN PASKAH selalu berubah sesuai jumlah hari-hari pada kalender Masehi. Perubahan hari perayaan tersebut dilakukan oleh Gereja-Gereja Timur yang sangat dengan dengan peristiwa-peristiwa kehidupan Kristus-Yesus. Perubahan hari perayaan tersebut dilakukan oleh Gereja-Gereja Timur yang sangat dengan dengan peristiwa-peristiwa kehidupan Kristus-Yesus. Karena mereka pun bergumul dengan tradisi keagamaan Israel yang sudah cukup tua dan masih berakar dalam penganutnya (termasuk yang sudah menjadi kristen). Namun bagi Gereja-Gereja di barat, yang mewarisi tradisi kebudayaan Yunani-Romawi, menetapkan HARI MINGGU sebagai PERAYAAN PASKAH.
Perjalanan sejarah PASKAH itu pada akhirnya disidangkan dalam Persidangan Gereja. Kaisar Constantin I mendesak Gereja, dalam Sidang Sinode di Nicea, tahun 325, untuk menetapkan waktu PASKAH. Dan, berangkat dari tradisi kekristenan, maka waktu PASKAH itu jatuh tepat pada Hari Minggu Pertama sesudah bulan purnama, dalam musim semi di mana malam dan siang sama lama (waktu)-nya. Itulah dasar ketetapan tentang waktu perayaan PASKAH menurut tradisi Kristen.
Akan tetapi di kemudian hari penetapan Waktu PASKAH / EASTER mengalami perubahan menurut keputusan Gereja masing-masing, seperti pada tahun 387, Gereja Gereja di Perancis dan di Mesir menetapkan 35 hari saja. Pada tahun 456 Masehi, Paus Hilarius (461-468) memerintahkan astronom : Victorinus, untuk mengubah kalender dan mencocokan waktu PASKAH / EASTER. Unsur – unsur dari metode Victorinus itulah yang masih dipakai sampai hari ini. Hal tersebut menimbulkan kesulitan besar dalam kekristenan karena Roma menolak penanggalan yang dari Gereja-gereja lainnya.
Di samping itu, perubahan Kalender Yulianus yang dilakukan pada masa pemerintahan Paus Gregorius XIII, melalui persetujuan untuk menggunakan Kalender Gregorian, menghapuskan kesulitan dalam pencocokan Perayaan PASKAH, terutama yang terkait dengan TAHUN LITURGI / TAHUN GEREJA, sejak tahun 1752. Sejak saat itu PASKAH / EASTER dirayakan pada waktu yang sama dalam gereja-gereja di Eropa. Pada sisi lain, Gereja-Gereja Ortodoks Timur tidak menggunakan Kalender Gregorian, untuk menetapkan perayaan PASKAH, entahkah itu cocok dengan Kalender Gregorian ataukah tidak. Salah satu contoh, di mana Negara menetapkan Perayaan EASTER / PASKAH adalah di Inggris dalam tahun 1928. Dalam keputusannya Pemerintah menetapkan PASKAH / EASTER itu diselenggarakan pada HARI MINGGU setelah hari SABTU kedua dalam Bulan April.
III. ANTARA MINGGU PASKAH DAN MINGGU SENGSARA
Sama sekali tidak bermaksud mengubah apapun di dalam tradisi Gereja (GPIB). Harus diakui dan dihormati seluruh keputusan yang ditetapkan, bahwa selama ini, khususnya dalam bidang Liturgi dan Lectionary, perubahan tidak melalui PERSIDANGAN SINODE. Contohnya : Perubahan yang terjadi dari MINGGU TRINITAS (Minggu setelah Pencurahan Rohkudus) menjadi MINGGU PENTAKOSTA. Perubahan tersebut terjadi pada Masa Bakti MS XVI, tanpa melalui PS GPIB. Namun secara perlahan-lahan, setelah terus menerus dipakai dalam SABDA-SABDA GPIB, maka Jemaat-Jemaat menggunakannya tanpa bertanya.
Landasan perubahan yang diusulkan sehubungan dengan pemakaian istilah seperti ini:
Untuk minggu-minggu sebelum PASKAH, kita mengatakan : MINGGU SENGSARA. Tetapi untuk MINGGU-MINGGU SESUDAH PASKAH, kita menyebutnya MINGGU SESUDAH PASKAH. Semestinya kita menyebut MINGGU SENGSARA itu dengan sebutan MINGGU PRA PASKAH. Dengan demikian, hitungan MINGGU PRA PASKAH itu dimulai bukan dari angka terkeci, melainkan angka terbesar :
VII -> VI -> V -> IV -> III -> II -> I -> PASKAH KRISTUS -> 1 -> 2 -> 3 -> 4 -> 5 -> 6 -> 7
HARI MINGGU KENAIKAN TUHAN
( pada Hari Kamis dari Minggu Paskah 7) dan diakhiri pada MINGGU PENCURAHAN Rohkudus ( keterangannya seperti ini : 7 X 7 hari = 49 hari + 1 hari Sabat = 50 Hari. Dalam tradisi Agama Israel adalah HARI RAYA PANEN = tradisi Kristen PENTAKOSTA .
Keterangan :
Bacalah Perintah Pelaksanaan Hari Raya Agama Israel dalam Imamat 23
1). Bulan I – Nisan tanggal 14 – Hari Raya Paskah
umat berkumpul dalam Pertemuan Raya
2). Bulan I – Nisan tanggal 15 – Hari Raya Roti Tidak Beragi
selama 7 hari – diakhiri dengan Pertemuan Raya
3). 7 Minggu setelah Paskah + 1 Hari Sabat, dilakukan Hari Raya Panen.
Hari Raya Panen itu diadakan pada Hari ke – 50 sesudah PASKAH.
Hari Raya Panen itulah yang menjadi HARI RAYA PENTAKOSTA yang
dilaksanakan berdasarkan peristiwa kedatangan Rokudus, diceritakan
dalam Kisah Rasul 2.
4). Bulan VII – tanggal 1 – diadakan Hari Raya Terompet (Serunai)
5). Bulan VII – tanggal 10 – diadakan Hari Raya Pendamaian ( Hari Raya
Grafirat Agung / Besar )
6). Bulan VII – tanggal 15 – diadakan Hari Raya Pondok Daun selama – 7
Hari penuh. Di akhiri pada Hari ke – 8 dilakukan pertemuan umat.
A). Cilakanya, MUSIM SALJU (WINTER) dan MUSIM (SEMI) tidak ada dalam siklus musim-musim di Indonesia. Di sini kita hanya mengenal 3 Musim (?) Pertama, MUSIM PENGHUJAN, kedua : MUSIM KEMARAU, dan ketika : MUSIM PANCAROBA (?). Jadi sulit untuk menentukan TANGGAL PASTI TENTANG PASKAH.
B). Masyarakat Indonesia pun mengenal Dewi Kesuburan (Dewi Sri); tetapi siklus perayaan kepada Dewi tersebut berkaitan erat dengan Perayaan Musim Menabur dan Musim Menuai. Oleh karena itu, sulit bagi Orang kristen di Indonesia mengambil alih nilai-nilai tradisi tersebut untuk mendasari sebuah ketetapan tentang TANGGAL pelaksanaan PASKAH Gereja.
III. DASAR TEOLOGI BAGI PERAYAAN PASKAH
Sekalipun mitos tentang EASTER dari Suku Bangsa Anglo-Saxon dan lambang-lambangnya mewarnai perayaan-perayaan gerejawi, namun bukan berarti bahwa Gereja mengikuti isi tradisi tersebut. Gereja mempunyai refleksi lain tentang PASKAH / EASTER yang bersumber dari PERISTIWA KUBUR KOSONG yang menandai PASKAH / KEBANGKITAN KRISTUS-YESUS.
LAMBANG
Dalam Perayaan PASKAH / EASTER Pelayan Sekolah Minggu mengadakan permainan mencari TELUR PASKAH. Sesungguhnya, TELUR PASKAH itu merupakan kesatuan dari Perayaan EASTER dalam Agama Paganis Eropah (suku Anglo-Saxon) . TELUR EASTER / PASKAH secara tradisional, sesuai cerita aslinya, merupakan lambang yang memaknai kesuburan (Dewi Kesuburan) dalam banyak kebudayaan (Ingatkah anda, bagaimana budaya Jawa, di mana pengantin perempuan menginjak TELUR ?). Cerita tentang TELUR itu pun terdapat pada Perayaan EASTER ( peringatan akan Dewi OSTARA) pada suku-bangsa Anglo-Saxon.
Lambang TELUR itu diambil alih Gereja Barat, lalu mengisinya sesuai makna iman kristen tentang KUBUR YANG KOSONG. Kristen Barat mengadakan perayaan PASKAH dengan mewarnai TELUR dengan bermacam warna dan menggulingkannya dari bukit menjelang akhir musim dingin (Winter). Hal itu digunakan untuk mengingatkan, bahwa BATU PENUTUP KUBURAN YESUS terguling menjelang fajar, dan KRISTUS-YESUS bangkit dari antara orang mati.
Memang ada berbagai pandangan terhadap penggunaan LAMBANG dalam TRADISI Gereja yang mengambil alih tradisi paganism. Ada sebahagian orang kristen menolaknya; akan tetapi ada pula yang mengambil alih tradisi tersebut, namun MENGISINYA DENGAN MAKNA BARU SESUAI PEMAHAMAN TEOLOGI KRISTEN. Tidak ada yang menyalahkan hal tersebut, jika hal itu ikut membangun iman warga jemaat kepada Tuhan Yesus, tak apalah. Asalkan kita harus berhati-hati memanfaatkan tradisi tersebut.
(Dari berbagai sumber)
Monday, March 10, 2008
lama kelamaan....
Bulan Februari berlalu juga dengan cepat, selain sibuk dengan Open House, sebagai MC di konser SPH Sentul Choir, aku juga sibuk dipelayanan walaupun secara jujur tidak se'ribet' waktu full timer di PT.
Hubungan dengan orang-orang sekitar juga tidak terlalu mengalami hal-hal yang berarti, kesenangan-kesusahan memang sudah biasa dilewati. Memulai hubungan serius dengan seseorang belum membuahkan hasil...mungkin aku masih harus sendiri untuk saat ini.
Bersama sahabat-sahabat di kantor (Sisca, Agung, Maytha, Putri, Ivan + Kak Deky, Bu Ana, Ellyca) aku bisa lebih tegar menghadapi kehidupan ini. Di Gereja malah aku mengalami kejenuhan bersahabat dengan teman-teman disana. Mudah-mudahan tidak lama hal ini aku rasakan.
Well, tetap tune in di blog ku ini...sedang diusahakan untuk mengganti layout blog agar bisa tampil lebih segar...tunggu aja ya..
Masukan dan kritik sangat ditunggu...have a great day & GBU all!
Thursday, February 28, 2008
VALENTINE - The History
Di berbagai belahan dunia, orang beramai-ramai mengamini bahwa tanggal 14 Februari adalah hari Valentine. Di Indonesia pun, sebagian orang turut menyambut gembira datangnya hari kasih sayang ini, meskipun sebenarnya mereka tak tahu pasti mengapa harus ikut merayakan hari tersebut.
Bukankah untuk menunjukkan rasa sayang kita terhadap teman, kekasih ataupun keluarga kita tak perlu menunggu datangnya tanggal 14 Februari, kita bisa menunjukkannya setiap hari. Kita juga tak perlu mengeluarkan uang banyak untuk membeli coklat, bunga dan pernak-pernik lainnya untuk menunjukkan rasa sayang kita, cukup dengan perhatian yang tulus.
Terlepas dari itu semua, marilah kita kupas secara detail keistimewaan hari Valentine yang kedatangannya selalu membuat dunia menjadi serba 'merah muda'.
Beberapa para ahli mengatakan bahwa asal mula Valentine itu berkaitan dengan St. Valentine. Ia adalah seorang pria Roma yang menolak melepaskan agama Kristen yang diyakininya.
Ia meninggal pada 14 Februari 269 Masehi, bertepatan dengan hari yang dipilih sebagai pelaksanaan 'undian cinta'. Legenda juga mengatakan bahwa St. Valentine sempat meninggalkan ucapan selamat tinggal kepada putri seorang narapidana yang bersahabat dengannya. Di akhir pesan itu, ia menuliskan : "Dari Valentinemu".
Sementara itu, ada cerita lain yang mengatakan bahwa Saint Valentine adalah seorang pria yang membaktikan hidupnya untuk melayani Tuhan di sebuah kuil pada masa pemerintahan Kaisar Claudius. Ia dipenjarakan atas kelancangannya membantah titah sang kaisar. Baru pada tahun 496 Masehi, pendeta Gelasius menetapkan 14 Februari sebagai hari penghormatan bagi Valentine.
Akhirnya secara bertahap 14 Februari menjadi hari khusus untuk bertukar
Di AS, Miss Esther Howland tercatat sebagai orang pertama yang mengirimkan kartu valentine pertama. Acara Valentine mulai dirayakan besar-besaran semenjak tahun 1800 dan pada perkembangannya, kini acara ini menjadi sebuah ajang bisnis yang menguntungkan.
Perlahan semarak hari kasih sayang ini merebak keluar dan menular pada masyarakat di seluruh dunia dibumbui dengan versi sentimental tentang makna valentine itu sendiri. Bahkan anak-anak kecil pun tertular dengan wabah ini, mereka saling berkirim kartu dengan teman-temannya di sekolah untuk menunjukkan rasa sayang mereka.
Sejarah Hari Valentine
Asal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan 'Feast of Lupercalia.'
Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.
Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Di bawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya.
Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.
Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta baik hati tersebut.
Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.
Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.
Kisah St. Valentine
Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ketiga. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut, dan ia bukan satu-satunya. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.
Namun sayangnya keinginan ini bertepuk sebelah tangan.
Ia berpikir bahwa jika pria tak menikah, mereka akan dengan senang hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan.
Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini diketahui kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tak bergeming dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin, tanpa bunga, tanpa kidung pernikahan.
Hingga suatu malam, ia tertangkap basah memberkati sebuah pasangan. Pasangan itu berhasil melarikan diri, namun
Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta itu adalah putri penjaga penjara. Sang ayah mengijinkannya untuk mengunjungi St. Valentine di penjara. Tak jarang mereka berbicara selama berjam-jam. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta itu. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.
Di hari saat ia dipenggal,14 Februari, ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis itu atas semua perhatian, dukungan dan bantuannya selama ia dipenjara. Diakhir pesan itu, ia menuliskan: "Dengan Cinta dari Valentinemu."
Pesan itulah yang kemudian merubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.
Tradisi Valentine
-- Selama beberapa tahun di Inggris, banyak anak kecil didandani layaknya orang dewasa pada hari Valentine. Mereka berkeliling dari rumah ke rumah sambil bernyanyi.
-- Di Wales, para pemuda akan menghadiahkan sendok kayu pada kekasihnya pada hari kasih sayang itu. Bentuk hati dan kunci adalah hiasan paling favorit untuk diukir di atas sendok kayu tersebut.
-- Pada jaman Romawi kuno, para gadis menuliskan namanya di kertas dan memasukkan ke dalam botol. lalu para pria akan mengambil sah satu kertas tersebut untuk melihat siapakan yang akan menjadi pasangan mereka dalam festifal tersebut.
-- Di Negara yang sama, para gadis akan menerima hadiah berupa busana dari para pria. Jika ia menerima hadiah tersebut, ini pertanda ia bersedia dinikahi pria tersebut.
-- Beberapa orang meyakini bahwa jika mereka melihat robin melayang di udara saat hari Valentine, ini berarti ia akan menikah dengan seorang pelaut. Sementara jika seorang wanita melihat burung pipit, maka mereka akan menikah dengan seorang pria miskin. Namun mereka akan hidup bahagia. Sementara jika mereka melihat burung gereja maka mereka akan menikah dengan jutawan.
-- Sebuah kursi cinta adalah kursi yang lebar. Awalnya kursi ini dibuat untuk tempat duduk seorang wanita (jaman dahulu wanita mengenakan busana yang sangat lebar). Belakangan kursi cinta dibuat untuk tempat duduk dua orang. dengan cara ini sepasang kekasih bisa duduk berdampingan.
-- Pikirkan
-- Petiklah sekuntum bungan dandelion yang tengah mengembang. Tiuplah putik-putik pada bunga tersebut, lalu hitunglah putik yang tersisa. Itu adalah jumlah anak yang akan Anda miliki setelah menikah.
-- Jika Anda memotong sebuah apel pada tengahnya dan menghitung jumlah biji di dalamnya, ini juga bisa menunjukkan jumlah anak yang akan Anda miliki setelah menikah.
Terlepas dari semua tradisi dan mitos Valentine tersebut, hari Valentine tetap jadi hari yang dinanti sebagian orang. Meski untuk menunjukkan rasa sayang tak perlu harus menunggu sampai 14 Februari dan tak harus selalu membanjiri yang tersayang dengan hadiah, karena perhatian dan kasih sayang bisa kita wujudkan setiap hari. Semoga kasih sayang selalu melimpahi kita setiap hari! Tuhan memberkati.
(dari berbagai sumber)
Monday, February 11, 2008
IMLEK...the history
Bagi orang Khonghucu Indonesia melakukan sembahyang sujud syukur pada Tahun Baru Imlek merupakan kewajiban pelaksanaan ibadah sesuai keyakinan agamanya. Umat Khonghucu tidak menyatakan perayaan Tahun Baru Imlek sebagai Tahun Baru Cina. Agama Khonghucu ada di dunia sudah ribuan tahun sebelum negara Cina diproklamirkan. Oleh karena itu harus dibedakan dengan orang yang kebetulan etnis Cina lalu ikut merayakannya, maka sesuatu hal yang keliru dan salah kaprah kalau persujudan dan puji syukur kepada Tuhan pada hari itu dikaitkan dengan budaya, adat dan tradisi Cina.
Janganlah menanggapi agama Khonghucu dengan menanggapi secara tradisi Cina. Dalam perkembangan suatu ajaran agama di mana agama itu lahir di suatu tempat, yang sebelumnya telah memiliki suatu tradisi dan budaya yang spesifik, maka ajaran agama ini turut mempengaruhi tradisi dan budaya setempat dan bukan sebaliknya. Namun disadari, dalam perkembangannya kemudian, agama apapun akan turut terbawa tradisi awal di mana tempat agama itu terlahir. Adalah suatu kebetulan agama Khonghucu lahir di Tiongkok, tetapi agama Khonghucu tidak membicarakan tentang tradisi Cina namun membicarakan tentang Tuhan, Firman, Iman, Kebijakan, dan sebagainya. Dalam sifatnya yang universal dan global, agama Khonghucu di Indonesia, baik dalam Kitab Sucinya, kebaktiannya, ritualnya menggunakan bahasa Indonesia tapi mengangkut hal-hal yang prinsip tentang keimanan tetap memakai bahasa Kitabnya.
Di RRC sendiri, Tahun Baru Imlek dirayakan sebagai perayaan musim semi, demikian juga berlainan dengan masyarakat Cina lain yang merayakannya sebagai menyambut tahun "Tikus".
Kehadiran tulisan ini mencoba menjelaskan sepintas kilas tentang makna agama yang terkandung di dalam perayaan Tahun Baru Khongcu/Imlek, dengan maksud agar dapat menambah pengertian bagi umat Khonghucu dan segenap simpatisannya, juga umat beragama lain agar lebih dapat diketahui khalayak masyarakat guna menghindari salah persepsi.
Penanggalan Imlek
Perhitungan penanggalan Imlek semula didasarkan atas peredaran bulan mengelilingi bumi (lunar calender), dan telah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi. Uniknya perhitungan penanggalan ini juga didasarkan atas peredaran bumi mengelilingi matahari (solar calender), seperti penanggalan masehi. Maka terjadi penyesuaian yaitu melalui mekanisme yang dikenal sebagai 'Lun Gwee' (bulan ulang) atau penyisipan 2 (dua) bulan tambahan setiap 5 (lima) tahun. Dengan adanya penyesuaian ini maka lebih tepat disebut penanggalan Imyanglek (sistem lunisolar).
Dalam sejarah tercatat, penanggalan Imlek dimulai sejak tahun 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya. Penanggalan Imlek sebutan asalnya adalah He Lek, yakni Penanggalan Dinasti Ke / Hsia (2205-1766 SM), di mana pertama kali mengenalkan penanggalan berdasarkan solar, dan penetapan tahun barunya bertepatan dengan tibanya musim semi. Dinasti Sing/Ien (1766-1122 SM) menetapkan tahun barunya mengikuti Dinasti He, yakni akhir musin dingin. Nabi Khongcu yang hidup pada zaman Dinasti Cou / Chin (1122-255 SM) merasakan bahwa sistem penanggalan yang dipakai Dinasti Ciu kurang mempunyai nilai praktis, yaitu karena tahun baru jtuh jatuh pada hari Tangcik (Tung Ze).Saat itu hari tengah musim dingin maka pendapat Nbi Khongcu, penanggalan Dinasti He yang paling tepat, hal itu dapat diketahui dari Sabda Nabi Khongcu : "Pakailah penanggalan Dinasti He ..." Kitab Sabda Suci (Lun Gi / Lun Yu) jilid XV : 11.
Adapun yang menjadi dasar pertimbangan Nabi Khongcu adalah kesejahateraan umat manusia. Pada kehidupan zaman dahulu, penetapan saat tahun baru memegang peranan yang amat penting, karena penetapan tersebut menjadi pedoman bagi semua orang untuk mempersiapkan segala pekerjaan untuk tahun yang berjalan, terutama para petani yang akan mulai bercocok tanam pada saat akhir musim dingin dan memasuki musim semi. Penanggalan ini sangat cocok bagi petani karena penanggalan tersebut perhitungan musim, peredaran matahari, serta uraian penjelasan mengenai iklim, maka penanggalan tersebut jadi populer dan disebut juga Long Lek (penanggalan petani).
Kaisar Han Bu Tee (140-86 SM) dari Dinasti Han (206 SM-220) menetapkan agama Khonghucu sebagai agama negara, dan penanggalan yang dianjurkan oleh Nabi Khongcu, yaitu He Lek resmi dipakai semua orang, baik masyarakat maupun pemerintahan dan tahun pertamanya dihitung dari tahun kelahiran Nabi Khongcu, yaitu tahun 551 SM, dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan masehi berselisih 551 tahun. Oleh karenanya jika tahun masehi saat ini 1999, maka tahun Imleknya menjadi 1999 + 551 = 2550. Karena dihitung sejak Nabi Khongcu lahir maka tahun Imlek lazim disebut sebagai Khongculek.
Sistem penanggalan Imlek ini digunakan juga dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda-beda tetapi merayakan hari tahun barunya sama. Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.
Tahun Baru Khongcu (Imlek) selalu jatuh pada bulan baru (Chee It / Chu Yi) setelah memasuki Tai Han (T Kan) 21 Januari (Great Cold - saat terdingin), sampai dengan tibanya Hi Swi (Yi Suei) 19 Feebruari (spring showers - hujan musim semi). Tapi masih dapat ditolerir paling awal 3 hari sebelumnya seperti tahun 1969 jatuh pada hari Sabtu, 18 Januari 1969.
Makna Religius
Pergantian tahun yang baru merupakan suatu penyesuaian terhadap gejala alam semesta, yang dilambangkan berkah-Nya melimpah bagi semua mahluk hidup. Di dalam kehidupan manusia, tahun baru merupakan suatu masa tentang keharmonisan dalam tata kehidupan, semua umat bergembira menyambut kehadiran tahun yang baru ini dengan penuh harap. Sesungguhnya apa bedanya tahun kemarin dengan tahun baru, malam kemarin dengan malam tahun baru? Mengapakah pergantian tahun disertai dengan makna yang sarat, sehingga sanggup menghimpun manusia untuk merayakannya?
Pergantian tahun merupakan suatu momentum untuk menyadari secara mendalam, bahwa kita terikat oleh waktu. Bersamaan dengan itu gejala perubahan alam dalam masa pergantian tahun, manusia diingatkan bahwa ia hidup dalam ruang dan waktu tertentu. Keterikatan perjalanan hidup terhadap ruang dan waktu menyadarkan kita sebagai makhluk yang kecil dan lemah di hadapan Tuhan, kekuasaan yang mengatur alam semesta ini. Sekurang-kurangnya manusia mengucapkan syukur, berterima kasih karena masih diberi kesempatan menjalani kehidupan dalam ruang dan waktu ini. Karunia Tuhan, Tuhan YME berlimpah dicurahkan kepada umat manusia. Oleh karena itu sudah sewajarnya manusia sadar untuk berusaha menengadah mengucapkan puji syukur. Pada saat ini kita berusaha memperbaiki diri dan mengakhiri semua permusuhan, kebencian, dan kejahatan.
"Sungguh Maha Besarlah Kebijakan Kwi Sien (Tuhan dalam sifat-Nya Yang Maha Roh). Dilihat tiada tampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Demikianlah menjadikan umat manusia di dunia berpuasa membersihkan hati dan mengenakan pakaian lengkap sujud bersembahyang kepada-Nya. Sungguh Maha Besarlah Dia, sehingga terasakan di atas dan di kanan kiri kita. Adapun kenyataan Tuhan Yang Maha Rokh itu tidak boleh diperkirakan, lebih-lebih tidak dapat ditetapkan. Maka sungguh jelas sifat-Nya yang halus itu, sehingga tidak dapat disembunyikan dari iman kita, demikianlah Dia." Kitab Tengah Sempurna (Tiong Yong / Chung Yung) Bab XV.
Pada hari pertama tahun baru Imlek semua umat Khonghucu bertingkah laku dengan cara yang berlainan dari biasanya. Rumah dibersihkan, orang menghias diri dengan pakaian yang baru, menyediakan makanan yang enak. Kesemuanya itu, seluruh kehidupan jasmani rohaninya diliputi rasa gembira dan bahagia, yang dibarengi dengan rasa dan suasana cinta kasih kepada sesama manusia, rasa syukur kepada Tuhan YME.
Pada Tahun Baru Khongcu/Imlek ini, umat Khonghucu melaksanakan sembahyang sujud ke hadirat Tuhan sesuai dengan apa yang diperintahkan agama, sebagaimana yang disabdakan Nabi Khongcu : "Pada permulaan tahun (Liep Chun), jadikanlah sebagai hari agung untuk bersembahyang besar ke hadirat Tuhan." Kitab Lee Ki / Li Chi bagian Gwat Ling.
Rangkaian Kegiatan Keagamaan
Perayaan Tahun Baru Imlek sudah mulai dipersiapkan ritual keagamaannya sejak 7 hari menjelang tahun baru dengan melaksanakan sembahyang menghantar Malaikat Dapur (Co Kun Kong), dan bagi umat Khonghucu yang penghidupannya sudah mapan saat ini berkesempatan untuk memberi santunan kepada mereka yang berkekurangan. Maka hari itu disebut juga sebagai Hari Persaudaraan (Ji Si Siang Ang).
Selanjutnya sehari sebelum tahun baru, sembahyang penutup tahun sekaligus menyambut tibanya tahun baru yang dilakukan persujudan rasa syukur ke hadirat Tuhan yang berkenan melindungi dan memberkahi sepanjang tahun yang akan ditinggalkan dan memohon agar tahun yang akan dimasuki dapat menghantar kepada kondisi kehidupan yang lebih baik daripadaa tahun lalu. Dalam sembahyang ini disampaikan pula hormat kepada orang tua yang sudah meninggal dunia juga kepada leluhur sebagai perwujudan bakti dan rasa terima kasih atas asuhannya. Hari itu juga biasanya para keluarga memperindah rumah, membuat kue, dan melaksanakan perayaan ini secara sederhana, tulus dan penuh hikmah tanpa kesan berlebihan.
Pada saat memasuki detik-detik tahun baru, sembahyang dilaksanakan lagi dengan penuh hikmat, khusuk dan gembira kemudian saling memberi hormat dan mendoakan semoga panjang umut, murah rejeki dan sehat sejahtera sambil memohon ampunan kepada orang tua dengan melakukan sungkem/hormat (Kui Ping Sien). Sedangkan kepada saudara saling memaafkan lalu saling mengunjungi sanak keluarga dan sehabat untuk menyampaikan hormat dan saling mendoakan diiringi maaf memaafkan.
Hari keempat di tahun yang baru dilakukan sembahyang untuk menyambut turunnya Malaikat Dapur (Co Kun Kong). Dapur merupakan salah satu bagian penting dari sebuah rumah tangga, karena di tempat ini semua kegiatan mengolah makanan untuk santapan keluarga dilakukan. Oleh karenanya dapur perlu dipelihara dengan baik, selain perlu selalu dijaga kebersihannya.
Kemudian hari kedelapan menjelang hari kesembilan (dilaksanakan pada Si/jam pertama), sembahyang beesar kepada Tuhan (King Thi Kong). Sesuai dengan amanat suci dalam Kitab Lee Ki (kitab kesusilaan), dilaksanakan dengan mempersiapkan diri secara khusus berpantang makanan (berpuasa/vegetaris) sejak hari ketiga sampai berakhirnya sembahyang King Thi Kong. Sembahyang ini merupakan sembahyang besar dengan peyerahan diri secara total kepada Tuhan yang bermakna betapa manusia demikian kecilnya di hadapan-Nya.
Pada hari ketigabelas, dilaksanakan upacara suci memperingati kemuliaan Kwan Kong (Dewa yang melambangkan sikap Ksatria, Setia, Berani, Bijaksana, dan taat pada agama).
Pada hari kelimabelas dilaksanakan upacara Purnama Raya (Cap Go Meh/Goan Siau) hari yang penuh makna, dan sarat dengan upacara keagamaan dalam istilah masyarakat Manado adalah "pesiar Toapekong".
(dari berbagai sumber & wawancara)